Sidrap, Diskresi.com — Sebuah insiden penipuan kembali mengguncang wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Seorang warga Desa Kampale, Kecamatan Dua Pitue, bernama Masrudin bin Muslimin, resmi melaporkan peristiwa yang menimpanya ke Kepolisian Sektor Dua Pitue, Kamis (5/6) malam.

Dalam laporan bernomor 44/VI/2025/RES SIDRAP – SEK DP, Masrudin mengungkapkan dirinya menjadi korban penipuan bermodus transaksi digital di sebuah toko berinisial F3 sekitar pukul 21.30 WITA. Kejadian bermula saat pelaku yang belum diketahui identitasnya masuk ke toko F3 dengan dalih hendak melakukan transfer uang senilai Rp450.000.

Pelaku kemudian menggunakan aplikasi e-wallet untuk mentransfer dana ke nomor rekening 082189157303 atas nama Dana-DNID NXX ABDX HAMXXX. Setelah menunjukkan bukti transfer, pelaku berdalih bahwa dompetnya tertinggal di sepeda motor. Namun, alih-alih kembali, pelaku justru kabur menggunakan sepeda motor Honda Beat warna hitam tanpa pelat nomor.

Masrudin mengaku sempat terdiam sejenak sebelum menyadari dirinya telah tertipu. Total kerugian akibat aksi ini mencapai Rp450.000, nilai yang mungkin kecil bagi sebagian orang, namun bagi seorang wiraswasta di kampung, nominal tersebut bisa sangat berarti.

Kepala SPKT Polsek Dua Pitue, AIPTU Karlin Mide, telah menerima laporan secara resmi dan memastikan pihaknya akan menindaklanjuti kasus ini.

Kejadian ini menambah deretan kasus penipuan berbasis digital yang makin marak di daerah-daerah. Para pelaku memanfaatkan kelemahan dalam sistem transaksi dan kepercayaan warga terhadap bukti transfer digital yang mudah dimanipulasi.

Pihak kepolisian juga mengimbau agar masyarakat lebih berhati-hati dalam menerima transaksi digital, terlebih dari orang yang tidak dikenal. Cek dan verifikasi setiap transaksi secara mandiri sebelum memberikan barang atau jasa.

“Kejadian ini menjadi peringatan agar setiap warga, terutama pelaku usaha kecil, lebih waspada terhadap segala bentuk modus penipuan,” ujar Karlin.

Masrudin berharap pelaku segera tertangkap dan masyarakat lainnya tidak menjadi korban dari modus serupa. “Bukan soal uangnya saja, tapi soal rasa aman dan kepercayaan di lingkungan kita,” pungkasnya. (*)